Telusur News, Kota Bekasi – Ada sesuatu yang berbeda ketika pelayanan kesehatan keluar dari gedung Puskesmas. Bukan lagi warga yang datang membawa keluhan, melainkan tenaga kesehatan yang mendatangi rumah-rumah, mengetuk pintu, lalu mengukur tubuh anak satu per satu.
Di wilayah kerja Puskesmas Pondok Gede Kota Bekasi, langkah itu dilakukan untuk memastikan balita yang mengalami stunting tidak berhenti sebagai angka dalam laporan.
Melalui Program Gizi, Puskesmas Pondok Gwde melakukan kunjungan lapangan untuk memantau tumbuh kembang dan persoalan gizi anak. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 3/20/27 Juli, dan 14 Agustus 2026, dengan sasaran balita stunting di wilayah Kelurahan Jatiwaringin dan Jaticempaka.
Penanggung jawab kegiatan, Ratna Wulansari, mengatakan kunjungan rumah menjadi bagian penting dalam memastikan kondisi anak diketahui secara lebih utuh. Sebab persoalan gizi tidak selalu dapat dibaca hanya dari angka yang tercatat di fasilitas pelayanan kesehatan. Saat ini terdapat 28 balita stunting yang menjadi sasaran pemantauan.
Dalam kunjungan tersebut, petugas melakukan validasi data melalui pemeriksaan antropometri, meliputi berat badan, panjang atau tinggi badan, serta lingkar lengan atas (LILA). Petugas juga melihat kondisi kesehatan anak sekaligus lingkungan tempat tinggalnya.
“Kami melakukan kunjungan rumah untuk memvalidasi data sekaligus melihat secara langsung kondisi balita, baik pertumbuhan, kesehatan maupun lingkungan tempat tinggalnya,” ujar Ratna.
Membaca Pertumbuhan dari Rumah ke Rumah
Di balik angka 28 balita itu, terdapat anak-anak dengan perjalanan pertumbuhan yang berbeda-beda.
Ada yang membutuhkan pemantauan lebih ketat. Ada pula yang perlu mendapatkan pemeriksaan lanjutan agar penyebab gangguan pertumbuhannya dapat diketahui dan ditangani secara tepat.
Sebanyak 12 balita telah dirujuk ke RSUD dan diperiksa oleh dokter spesialis anak. Setelah mendapatkan pemeriksaan, mereka kemudian diberikan Pangan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) sesuai kebutuhan dan penanganan yang ditetapkan.
Pemberian PKMK ditujukan untuk membantu meningkatkan berat badan serta panjang/tinggi badan, sehingga status gizi anak diharapkan dapat bergerak ke arah yang lebih baik.
Namun intervensi tersebut bukanlah proses sehari jadi.
Balita masih terus berada dalam pemantauan Puskesmas. Perubahan berat badan, panjang atau tinggi badan, serta kondisi kesehatan harus diamati secara berkala.
Di sinilah kerja tenaga kesehatan menjadi seperti sebuah perjalanan panjang: mengukur, mencatat, mengevaluasi, mengedukasi, lalu kembali memantau.
Ketika Orang Tua Masih Menganggap Stunting Hal Biasa
Persoalan stunting ternyata tidak selalu berhenti pada akses layanan kesehatan.
Ratna mengungkapkan, salah satu kendala yang masih ditemukan adalah adanya orang tua yang belum bersedia membawa anaknya menjalani rujukan ke rumah sakit.
Sebagian masih menganggap kondisi pertumbuhan anak sebagai sesuatu yang wajar dan bukan persoalan yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Ada pula orang tua yang sebelumnya sudah membawa anak untuk diperiksa, tetapi kemudian tidak kembali melakukan kontrol karena alasan kesibukan dan keterbatasan waktu.
Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas.
Sebab intervensi gizi akan sulit mencapai hasil optimal jika tidak diikuti pemantauan berkelanjutan dan keterlibatan keluarga.
Karena itu, edukasi kepada orang tua menjadi bagian penting dalam setiap kunjungan.
Petugas menjelaskan bahwa pertumbuhan anak bukan perkara yang sebaiknya ditunggu hingga terlihat mengkhawatirkan. Kondisi gizi dan pertumbuhan pada masa balita berkaitan dengan proses tumbuh kembang anak yang berlangsung pada periode penting kehidupannya.
“Kami terus memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya kesehatan dan pertumbuhan anak. Jangan sampai kondisi yang sebenarnya bisa ditangani sejak dini justru terlambat karena dianggap sebagai sesuatu yang biasa,” kata Ratna.
Stunting Bukan Hanya Soal Tinggi Badan
Dalam pendekatan kesehatan masyarakat, stunting tidak sekadar persoalan seorang anak yang terlihat lebih pendek dibandingkan anak seusianya.
Stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis dan/atau infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan anak berada di bawah standar pertumbuhan.
Karena itu, pemantauan tidak cukup hanya dengan melihat berat badan.
Petugas perlu melihat berbagai indikator pertumbuhan dan kondisi kesehatan anak secara menyeluruh. Pengukuran berat badan, panjang/tinggi badan dan LILA menjadi bagian dari upaya memperoleh gambaran kondisi anak secara lebih objektif.
Dari data tersebut, tenaga kesehatan dapat menentukan apakah seorang anak membutuhkan pemantauan lebih lanjut, intervensi gizi atau rujukan.
Puskesmas Tak Menunggu Anak Datang
Langkah kunjungan rumah memperlihatkan perubahan pendekatan pelayanan kesehatan.
Puskesmas tidak hanya menunggu balita datang ke Posyandu atau fasilitas kesehatan. Ketika terdapat anak yang membutuhkan perhatian khusus, petugas bergerak mendatangi lingkungan tempat anak tumbuh.
Rumah menjadi ruang pemeriksaan sekaligus ruang untuk memahami kehidupan anak secara lebih nyata.
Di sana petugas dapat melihat kondisi lingkungan, berbicara langsung dengan orang tua, memahami kendala keluarga dan memberikan edukasi yang lebih personal.
Pendekatan seperti ini penting karena persoalan gizi anak tidak berdiri sendiri. Ada pola asuh, pengetahuan keluarga, kondisi lingkungan, akses pelayanan kesehatan dan kepatuhan terhadap pemantauan yang saling berkaitan.
Posyandu Menjadi Pintu Pertama
Puskesmas Pondok Gede berharap langkah proaktif tersebut dapat meningkatkan kesadaran orang tua untuk lebih rutin membawa anak ke Posyandu setiap bulan.
Posyandu menjadi salah satu pintu penting untuk memantau pertumbuhan anak secara berkala.
Dengan pengukuran rutin, perubahan berat badan dan tinggi badan dapat diketahui lebih awal. Jika ditemukan kondisi yang memerlukan perhatian, tenaga kesehatan dapat melakukan tindak lanjut sesuai kebutuhan.
Pesannya sederhana: jangan menunggu anak terlihat sakit untuk datang ke Posyandu.
Karena kadang, persoalan pertumbuhan tidak datang dengan suara keras. Ia hadir perlahan—terlihat dari angka pada timbangan, garis pertumbuhan yang tidak bergerak sesuai harapan, atau ukuran tinggi badan yang tertinggal dari anak-anak seusianya.
Dan sebelum persoalan itu menjadi lebih besar, ada baiknya orang tua mengetahuinya lebih dini.
Menjaga 28 Anak, Menjaga Masa Depan
Sebanyak 28 balita yang kini berada dalam pemantauan Puskesmas Pondok Gede bukan sekadar angka capaian program.
Mereka adalah 28 anak dengan nama, keluarga, harapan dan masa depan masing-masing.
Karena itu, penanganan stunting membutuhkan kerja bersama. Puskesmas menjalankan fungsi pelayanan dan pemantauan. Posyandu menjadi mata yang dekat dengan pertumbuhan anak. Sementara orang tua menjadi pihak terdekat yang menentukan apakah pemantauan dan intervensi berjalan secara konsisten.
Ratna berharap keluarga tidak ragu berkonsultasi dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan ketika ditemukan masalah pertumbuhan.
“Kami berharap orang tua semakin sadar bahwa membawa anak ke Posyandu setiap bulan itu penting. Dengan pemantauan rutin, kondisi pertumbuhan anak bisa diketahui lebih dini dan bila ada masalah dapat segera ditindaklanjuti,” ujarnya.
Pada akhirnya, perang melawan stunting tidak selalu berlangsung di ruang-ruang besar atau dalam angka-angka statistik.
Kadang ia dimulai dari sebuah rumah sederhana, dari seorang petugas yang datang membawa alat ukur, dari seorang ibu yang bersedia mendengarkan, dan dari satu keputusan kecil untuk membawa anak ke Posyandu bulan depan.
Sebab pertumbuhan anak tidak bisa menunggu. Dan masa depan sebuah generasi sering kali dimulai dari perhatian kecil yang dilakukan hari ini.
(DMS)
















