Telusur News, Kota Depok – Kekalahan telak tim basket putra Kota Bekasi dari Kota Bogor dengan skor 76-44 pada babak semifinal Porprov XV Jawa Barat 2026, Jumat(06/07.2026) malam, menyisakan persoalan yang jauh lebih serius daripada sekadar angka di papan skor.
Di balik pertandingan di Gor Depok yang berakhir dengan kemenangan Kota Bogor tersebut, muncul kritik keras dari kubu Kota Bekasi terhadap kualitas kepemimpinan wasit. Sejumlah keputusan yang dinilai fundamental dan kontroversial disebut telah memengaruhi jalannya pertandingan, bahkan menggerus mental bertanding para pemain.
Head Coach Basket Putra Kota Bekasi, August Leo Lumban Gaol, secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya. Ia menilai terdapat keputusan-keputusan wasit yang dianggap fatal dan tidak semestinya terjadi dalam pertandingan sekelas semifinal Porprov tingkat provinsi.
“Jujur, kami kecewa dengan keputusan wasit yang benar-benar fundamental dan fatal. Itu sangat memengaruhi moral anak-anak,” ungkap August.
Kekecewaan tersebut, menurutnya, bukan persoalan yang baru muncul dalam pertandingan semifinal. Ia menyebut persoalan serupa telah dirasakan timnya sejak pertandingan pertama hingga laga keempat.
Artinya, ada persoalan berulang yang patut menjadi perhatian serius penyelenggara. Sebab, ketika keputusan pengadil lapangan terus dipersoalkan oleh salah satu kontestan, yang dipertaruhkan bukan hanya hasil pertandingan, melainkan juga kepercayaan terhadap integritas kompetisi.
August bahkan menilai terdapat perbedaan dalam ketegasan wasit ketika menyikapi kejadian di lapangan. Insiden yang menurutnya terjadi tepat di depan mata pengadil pertandingan disebut luput dari perhatian, sementara kejadian serupa di pihak lawan justru dapat terlihat meski dari jarak jauh.
“Kalau kita mau melihat lebih jauh, sebenarnya banyak. Bahkan bisa dilihat kembali melalui YouTube. Ada kejadian yang sangat fundamental, bahkan di depan mata wasit sekalipun tidak terlihat. Tetapi ketika terjadi di pihak lawan, dari jarak jauh pun bisa terlihat,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi kritik serius terhadap standar konsistensi kepemimpinan pertandingan. Dalam olahraga kompetitif, wasit bukan sekadar pemegang peluit, melainkan penjaga aturan yang harus berdiri di atas kepentingan kedua tim.
August menegaskan, dirinya tidak sedang meminta wasit berpihak kepada Kota Bekasi. Yang dipersoalkan adalah keberpihakan terhadap aturan dan nilai-nilai permainan bola basket itu sendiri.
“Wasit bukan tidak memihak kami, tetapi tidak memihak kepada bola basketnya. Itu catatan penting bagi Pemprov Jawa Barat untuk membenahi kualitas perwasitan pada pekan olahraga berikutnya,” ujarnya.
Kubu Kota Bekasi juga membuka kemungkinan menempuh jalur keberatan secara organisatoris. August menyatakan akan menyampaikan laporan kepada Perbasi agar persoalan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui mekanisme resmi hingga tingkat Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Jangan Biarkan Peluit Mengalahkan Sportivitas
Sementara itu, Koordinator Para Cabor Kota Bekasi yang bertanding di Depok, Rizky Chandra, mengajak seluruh pihak untuk melihat persoalan ini secara lebih luas. Ia mendorong agar pertandingan ditinjau kembali melalui rekaman video sehingga evaluasi dapat dilakukan secara objektif dan terbuka.
Menurut Rizky, seluruh atlet telah berjuang maksimal membawa nama daerah. Karena itu, prestasi olahraga tidak boleh hanya dilihat dari hasil akhir, tetapi juga dari kualitas penyelenggaraan dan profesionalitas seluruh perangkat pertandingan.
“Mari sama-sama kita lihat kembali, kita review, dan saling belajar. Semua di sini berjuang untuk prestasi bola basket Jawa Barat. Jangan hanya melihat dari satu sisi, tetapi harus dari sudut pandang yang lebih luas,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pembenahan tidak boleh berhenti pada atlet dan pengurus cabang olahraga. Perangkat pertandingan, termasuk wasit, harus menjadi bagian penting dari evaluasi.
“Anak-anak sudah berusaha semaksimal mungkin. Apa boleh buat, mungkin ini sudah kehendaknya. Tetap semangat untuk pertandingan selanjutnya. Kita sama-sama berbenah, baik atlet, pengurus, maupun bidang pertandingan,” tambahnya.
Di tengah polemik tersebut, Rizky memastikan dukungan kontingen Kota Bekasi tetap berlanjut kepada cabang olahraga lain yang masih berjuang di Depok. Karate menjadi salah satu cabang yang diharapkan mampu menyumbangkan medali emas, disamping potensi dari golf dan hoki.
Ia menyebut target kontribusi medali emas dari cabang-cabang olahraga yang bertanding di Depok diharapkan dapat menembus lebih dari 20 emas.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan dari pertandingan semifinal basket putra ini: kompetisi olahraga harus menjadi panggung bagi kemampuan atlet, bukan arena ketidakpastian akibat keputusan pengadil lapangan.
Kekalahan memang bagian dari olahraga. Papan skor boleh menunjukkan angka 76-44, tetapi angka tersebut tidak otomatis menghapus hak sebuah tim untuk mempertanyakan keputusan pertandingan.
Jika memang terdapat kekeliruan, evaluasi harus dilakukan secara terbuka, berdasarkan rekaman pertandingan dan ketentuan perwasitan yang berlaku.
Sebab, medali dapat dihitung, kemenangan dapat dirayakan, dan kekalahan dapat diterima. Namun, kepercayaan terhadap sportivitas tidak boleh dibiarkan gugur hanya karena peluit yang dipersoalkan.
Porprov seharusnya menjadi panggung kejayaan atlet Jawa Barat. Bukan panggung tempat kualitas perwasitan justru dipertanyakan.
(DMS)
















