Keturunan Borsak Jungjungan Silaban, Boru, dan Bere di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi yang tergabung dalam Parsadaan Borsak Jungjungan Silaban (PBJS) Jabodetabek menggelar Pesta Parolopolopon 2026 di Grand Graha Delima 2, Kota Bekasi, Minggu (11/10/2026).
Acara diawali dengan penyambutan rombongan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Parsadaan Pomparan Borsak Jungjungan Silaban Indonesia/Dunia, Prof. Dr. Pantas Silaban, MBA., serta Ketua Umum PBJS Jabodetabek, Togu Silaban. Panitia mengalungkan bunga sebagai bentuk penghormatan dengan diiringi musik dan tarian Batak Toba.
Ibadah dan Pesan Persekutuan (Hasadaon)
Sebagai wujud rasa syukur dan iman, kegiatan dirangkai dengan ibadah Kristen Protestan yang dipimpin oleh Pdt. (Emr) C.O.R. Silaban, S.Th., M.Th. Dalam khotbahnya, ia menekankan pentingnya persatuan (hasadaon) sesama marga Silaban dengan menghapuskan sekat-sekat pemisah di tengah keluarga besar yang secara genealogis terbagi dalam tiga garis keturunan, yaitu Datu Bira, Datu Mangambe, dan Datu Guluan.
“Ise ma hamu, hami ma Borsak Jungjungan Silaban na masihol dihasadaon, unang be sai tadok pomparan ni Datu,” tegas Pdt. C.O.R. Silaban. Ia mengajak seluruh keturunan untuk menghayati Tema dan Subtema acara demi melestarikan adat Batak Toba serta menghidupkan kembali nilai-nilai luhur warisan leluhur yang selaras dengan ajaran iman.
Usai ibadah, acara dilanjutkan dengan penyampaian sambutan. Ketua Umum PBJS Jabodetabek, Togu Silaban, memaparkan perjalanan organisasi masa bakti 2022–2026 serta dinamika pasca Rapat Umum Anggota (RUA) pada 17 Agustus 2026 dan Rapat Umum Anggota Luar Biasa (RUAL) pada 3 Oktober 2026. Dikarenakan tim formatur masih menyelesaikan penyusunan kepengurusan baru masa bakti 2026–2030, pengukuhan pengurus akan dilaksanakan pada kesempatan berikutnya sesuai kesepakatan RUAL.
Agenda Empat Tahun Sekali untuk Mempererat Persaudaraan
Pesta Parolopolopon PBJS Jabodetabek merupakan perhelatan akbar empat tahunan sesuai AD/ART perkumpulan. Dihadiri sekitar 2.300 peserta, acara ini menjadi ajang silaturahmi, mempererat hubungan antarkerabat, serta memperkuat komunikasi lintas generasi di tengah dinamika kehidupan perkotaan.
Prof. Dr. Pantas Silaban, MBA., menegaskan bahwa pesta ini bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan momentum melestarikan kebudayaan dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus.
“Kami berharap semangat kebersamaan ini tidak berhenti pada perayaan, tetapi terus tumbuh menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan, menghormati leluhur, dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara,” ujar Pantas.
Dukungan Gelar Pahlawan Nasional untuk Prof. Dr. Friedrich Silaban
Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah penggalangan 1.000 tanda tangan untuk mendukung pengusulan almarhum Prof. Dr. Friedrich Silaban (16 Desember 1912 – 14 Mei 1984) sebagai Pahlawan Nasional.
Friedrich Silaban merupakan arsitek kenamaan Indonesia yang merancang berbagai bangunan monumental, seperti Masjid Istiqlal dan Monumen Nasional (Monas). Penggalangan dukungan ini bertujuan menghimpun aspirasi masyarakat sekaligus mengenalkan kembali rekam jejak serta kontribusi besarnya bagi sejarah arsitektur Indonesia kepada generasi muda.

















