Sering Mati Lampu Sampai Bantuan Tak Tepat Sasaran, Huntara Abrasi Amurang Sarat Persoalan

- Jurnalis

Rabu, 2 November 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar atas abrasi pantai Amurang, gambar bawah Huntara korban bencana abrasi

Gambar atas abrasi pantai Amurang, gambar bawah Huntara korban bencana abrasi

MINSEL, TelusurNews,- Pasca terjadinya bencana abrasi pantai Amurang, Minahasa Selatan (Minsel) yang merusak dan menenggelamkan sedikitnya puluhan rumah warga dan jembatan, pada Rabu (15/6/2022) lalu, kini sarat berbagai persoalan setelah sekira 4 bulan lamanya berlalu.

Warga korban bencana yang tadinya sempat diungsikan ke beberapa bangunan di sekitar tempat kejadian, berjalannya waktu, kemudian ditempatkan di tempat Hunian Sementara (Huntara) yang berlokasi tidak jauh dari lokasi bencana, tepatnya di lokasi perkebunan Kilo Dua, Kelurahan Uwuran Dua, Amurang.

Di lokasi tersebut, oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Minahasa Selatan dibangunkan bangunan-bangunan tempat tinggal sementara. Dengan menggunakan dana alokasi 1,5 miliar, dibangun 120 unit hunian berukuran 4×6.

Pemkab Minsel juga sempat membuka rekening donasi melalui Diskominfo Minsel untuk dana talangan.

Nah, persoalannya sekarang, warga kemudian mempertanyakan terkait anggaran-anggaran tersebut.

Pasalnya, setelah dibangunnya Huntara yang kemudian akan menjadi Hunian Tetap (Huntap), warga mengeluhkan berbagai persoalan. Mulai dari sering mati lampu (listrik padam), sampai dengan bantuan yang diduga tidak tepat sasaran kini menjadi polemik warga korban abrasi Amurang.

Terkait hal itu, warga kemudian menilai Pemkab Minsel tidak transparan dalam pengelolaan anggaran bantuan.

Hingga kini warga tidak mengetahui sampai di mana pengelolaan anggaran tersebut. Kendati ada anggaran, namun warga masih saja mengalami banyak kesulitan. Seperti yang dikeluhkan warga korban Franky Tambayong kepada wartawan.

Baca Juga :  Panitia HPN Bekasi Raya 2025 Jalin Sinergi dengan Diskominfosantik Kabupaten Bekasi

“Blok E sumber airnya dari situ, jadi kalau mati lampu kami tidak ada yang serap air,” keluh Tambayong beberapa waktu lalu.

Tidak hanya itu, penyaluran bantuan tidak tepat sasaran juga menjadi salah satu persoalan kini. Menurut Franky, warga korban yang rumahnya hanyut (zona hitam) yang seharusnya lebih layak menerima bantuan tunai, tapi kenyataannya Pemkab Minsel justru memberikan kepada warga yang tidak layak terima.

“Kami yang tenggelam, yang bahasa zona hitam, selektif sekali, malah yang cuma terdampak 1 atap 3 KK malah dapat yang 4 juta,”

“Ibu Merry bilang yang cuma kost tidak akan terakomodir,  tapi pada kenyataannya menerima,” keluh Franky.

Mirisnya, warga bingung mau mengeluh kemana.

“Selama tiga bulan ini, lurah (Uwuran Satu) ketika dicari sangat sulit sekali, bahkan kami sudah tidak tau kalau kami ada lurah, sama sekali tidak ada staff, pelayanan tidak tau mau hubungi siapa,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minahasa Selatan Thorie Joseph kepada wartawan melalui pesan singkat WhatsApp pribadi, Rabu (02/11), mengatakan, untuk persoalan anggaran dapat menghubungi Sekretaris Daerah (Sekda) Minsel Glady Kawatu, yang juga merangkap Kaban BPBD Minsel.

Baca Juga :  Grand Marico Ballroom Diresmikan, Promo 35 Juta Hingga Akhir Tahun 

“Kalau bicara anggaran langsung ke Kepala Badan Bencana dalam hal ini Sekretaris Daerah,” ujar Joseph.

Thorie Joseph kemudian mengarahkan wartawan untuk menghubungi pihak-pihak terkait tentang bantuan Huntara.

“Terkait bantuan Huntara untuk modal usaha di Kesra, untuk logistik Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD, hubungi mereka yah,” tulisnya di WhatsApp.

Namun sayangnya, masing-masing saling lempar tanggung jawab. Saat wartawan menghubungi Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Merry Rumerung di hari yang sama, mengatakan, agar wartawan menghubungi atasannya.

“Itu nanti hubungi langsung dengan bos saya saja, saya kan ada atasan,” ucap Rumerung.

Namun terkait masalah listrik, Kabid Merry mengatakan bila warga menggunakan listrik berlebihan.

“Kalau masalah listrik kami sudah sampaikan ke mereka (warga), kan daya suka naik turun, itupun karena mereka, kan sudah bilang jangan pakai terlalu banyak alat-alat rumah tangga,” katanya.

Ditanya terkait rekening donasi yang sempat dibuka Pemkab Minsel, Rumerung mengatakan, “Kan sudah dibagikan, sekarang yang sisa tinggal biaya listrik,” pungkasnya. (tl)

Berita Terkait

Pemkot Bekasi Integrasikan Data Tanah dan Pajak, Dorong Administrasi Lebih Akurat dan Pelayanan Lebih Mudah
Bawaslu Minsel Diduga Pakai Perusahaan Bodong dan Barang Pengadaan Bekas Saat Pilkada 2024
Bengkalis Jadi Tuan Rumah KKI 2026, Bupati Hj. Kasmarni Dorong Inovasi Teknologi Kemaritima
HIPMI Kota Bekasi Dorong Pengusaha Muda Naik Kelas Lewat Orientasi Batch 4
Jadi Sorotan, Anggaran BumDes Makaaruyen Modoinding Diduga Disalahgunakan
Praktisi Hukum Sulut Soroti Sengketa Pilhut Tumpaan Minsel 2022: Kenapa Bupati Berani Tidak Jalankan Putusan
Pemdes Pinaling Amurang Timur Gelar HUT Desa Ke 135 Tahun, Berbagai Lomba Diadakan
Erupsi Anak Krakatau Berdampak ke Bekasi, Tri Minta Perhatian Lebih untuk Anak dan Lansia

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 19:09 WIB

Pemkot Bekasi Integrasikan Data Tanah dan Pajak, Dorong Administrasi Lebih Akurat dan Pelayanan Lebih Mudah

Selasa, 15 September 2026 - 09:48 WIB

Bawaslu Minsel Diduga Pakai Perusahaan Bodong dan Barang Pengadaan Bekas Saat Pilkada 2024

Senin, 14 September 2026 - 16:15 WIB

Bengkalis Jadi Tuan Rumah KKI 2026, Bupati Hj. Kasmarni Dorong Inovasi Teknologi Kemaritima

Sabtu, 12 September 2026 - 14:42 WIB

HIPMI Kota Bekasi Dorong Pengusaha Muda Naik Kelas Lewat Orientasi Batch 4

Kamis, 10 September 2026 - 13:34 WIB

Jadi Sorotan, Anggaran BumDes Makaaruyen Modoinding Diduga Disalahgunakan

Berita Terbaru