PWI Bekasi Raya: Gunung Sampah Bantargebang Telan Korban, Bom Waktu Meledak

- Jurnalis

Selasa, 10 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tragedi longsor gunung sampah di TPST Bantargebang kembali menelan korban jiwa dan menimbun truk pengangkut sampah. Peristiwa ini memicu sorotan tajam terhadap pengelolaan tempat pembuangan akhir terbesar di Indonesia tersebut yang selama bertahun-tahun dinilai menyimpan potensi bencana.

Ketua PWI Bekasi Raya, Ade Muksin, menyebut peristiwa tersebut sebagai bom waktu lingkungan yang sejak lama dibiarkan tanpa mitigasi serius.

“Longsor di Bantargebang ini bukan kejadian pertama. Risiko gunung sampah itu sudah lama diketahui. Karena itu saya katakan, ini bom waktu yang akhirnya meledak,” ujar Ade, Selasa (10/3/2026).

Menurutnya, tragedi ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pengelola utama TPST Bantargebang, serta Pemerintah Kota Bekasi yang wilayahnya selama ini menanggung dampak langsung dari aktivitas pembuangan sampah tersebut.

“Gunung sampah di Bantargebang sudah lama menjadi bom waktu. Pertanyaannya, apakah kita harus selalu menunggu korban jiwa dulu baru bergerak? Mitigasi bencana seharusnya dilakukan sebelum tragedi terjadi, bukan setelah korban berjatuhan,” katanya.

TPST Bantargebang selama ini diketahui menerima sekitar 6.000 hingga 7.000 ton sampah dari Jakarta setiap hari. Tumpukan sampah yang terus meninggi selama bertahun-tahun membuat kawasan tersebut kerap disebut sebagai gunung sampah raksasa yang berpotensi menimbulkan risiko longsor.

Baca Juga :  Kementrian ATR/BPN Penanaman Serentak 100.000 Pohon, Kantah Kota Bekasi Dukung Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Sejumlah pejabat diketahui turun langsung ke lokasi pascakejadian, di antaranya Menteri Lingkungan Hidup, Gubernur DKI Jakarta, serta Wali Kota Bekasi.

Menteri Lingkungan Hidup menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan TPST Bantargebang, sementara Gubernur DKI Jakarta menyampaikan rencana penyiapan zona baru dalam pengelolaan sampah.

Namun menurut Ade Muksin, kehadiran pejabat dan rencana evaluasi tidak boleh berhenti pada pernyataan semata.

“Bantargebang setiap hari menerima ribuan ton sampah dari Jakarta. Gunung sampah itu sudah seperti ancaman yang terus membesar. Kalau tidak ada pengelolaan yang serius dan berbasis mitigasi risiko, tragedi seperti ini bisa terus berulang,” ujarnya.

Ia menilai, tragedi longsor di Bantargebang tidak bisa lagi dipandang sebagai kejadian yang semata-mata bersifat insidental.

“Jika risiko longsor sudah lama diketahui tetapi mitigasi tidak dilakukan secara serius, maka publik bisa menilai ini bukan sekadar bencana, melainkan kegagalan dalam pengelolaan dan mitigasi risiko lingkungan,” tegasnya.

Baca Juga :  Pembukaan Akses Pintu Bali, Ketua DPR: 'Harus Buat Ekonomi Rakyat Menggeliat'

Ade menambahkan, pengelolaan sampah skala besar seperti di Bantargebang seharusnya disertai sistem pengamanan dan mitigasi yang ketat karena menyangkut keselamatan manusia.

“Gunung sampah setinggi itu bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan keselamatan. Jangan sampai nyawa manusia selalu menjadi alarm terakhir baru kemudian kita berbicara soal evaluasi,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa persoalan Bantargebang tidak hanya menyangkut aspek teknis pengelolaan sampah, tetapi juga menyangkut keselamatan para pekerja, pemulung, serta masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TPST.

“Bekasi ini bukan sekadar tempat buangan. Ada masyarakat yang hidup di sekitar TPST dan ada pekerja yang setiap hari berada di tengah gunung sampah itu. Keselamatan mereka harus menjadi prioritas, bukan sekadar angka dalam laporan pengelolaan sampah,” tegasnya.

PWI Bekasi Raya berharap tragedi ini menjadi momentum evaluasi serius terhadap sistem pengelolaan sampah di Bantargebang agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

“Negara harus hadir untuk mencegah, bukan hanya datang setelah bencana terjadi,” pungkasnya. (Rls)

Berita Terkait

Marbot Bersih-bersih, DKM Al-Qolam PWI Bekasi: Mushola Bocor Perlu Perhatian
Plh Wali Kota Harris Bobihoe Apresiasi Dan Terima Kasih Atas Hadirnya Program TMMD Ditengah Masyarakat
Pesan Plh Wali Kota Harris Bobihoe Di Hut BJB Ke 65
SMSI dan ABPEDNAS Jajaki Kolaborasi Nasional untuk Penguatan Desa dan Publikasi Program Strategis
Hari Kebangkitan Nasional, PLN Hadirkan Promo Tambah Daya Diskon 50 Persen Lewat Program “MeiLaju Lebih Terang”
PWI Pusat Tetapkan Susunan Pengurus Baru, Marthen Selamet Susanto Jabat Sekjen
Pesan Wali Kota Bekasi Kepada Wakilnya Sebelum Berangkat Menunaikan Ibadah Haji
Pra-Pendaftaran SPMB Kota Bekasi 2026 Dimulai, 6.000 Akun Terbuat di Hari Pertama

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 11:50 WIB

Marbot Bersih-bersih, DKM Al-Qolam PWI Bekasi: Mushola Bocor Perlu Perhatian

Sabtu, 23 Mei 2026 - 18:20 WIB

Plh Wali Kota Harris Bobihoe Apresiasi Dan Terima Kasih Atas Hadirnya Program TMMD Ditengah Masyarakat

Kamis, 21 Mei 2026 - 13:45 WIB

Pesan Plh Wali Kota Harris Bobihoe Di Hut BJB Ke 65

Kamis, 21 Mei 2026 - 09:12 WIB

SMSI dan ABPEDNAS Jajaki Kolaborasi Nasional untuk Penguatan Desa dan Publikasi Program Strategis

Rabu, 20 Mei 2026 - 17:36 WIB

Hari Kebangkitan Nasional, PLN Hadirkan Promo Tambah Daya Diskon 50 Persen Lewat Program “MeiLaju Lebih Terang”

Berita Terbaru

Berita

Pesan Plh Wali Kota Harris Bobihoe Di Hut BJB Ke 65

Kamis, 21 Mei 2026 - 13:45 WIB