Simposium Nasional SMSI: Penguatan Kerjasama Pers dengan Platform Digital Bisa Mendorong Jurnalisme Berkualitas

- Jurnalis

Minggu, 16 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat menggelar Simposium Nasional bertema “Menyongsong Indonesia Emas 2045 Media Baru dan Platform Global Sebuah Keniscayaan” di Sekretariat SMSI Pusat, Sabtu (15/11/2025).

Kegiatan itu sekaligus menjadi rangkaian acara pembukaan resmi Press Club Indonesia.

Dalam sesi diskusi, narasumber dari Koordinator Bidang Organisasi dan Tata Kelola Publisher Rights Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Jurnalisme Berkualitas (KTP2JB), Alexander Suban, menekankan pentingnya kolaborasi antara perusahaan media dan platform digital.

Menurut Alexander, transformasi digital membuat media tidak lagi hanya mengandalkan saluran distribusi yang dapat dikendalikan sendiri seperti pada era media cetak.

Kini, platform digital memegang peranan dominan dalam penyebaran informasi.

“Perkembangan media saat ini menunjukkan bahwa distribusi berita banyak ditentukan platform digital. Karena itu, kerja sama antara media dan platform menjadi sangat penting,” ujarnya dalam pemaparan.

Ia juga menjelaskan bahwa Komite yang ia wakili bertugas memfasilitasi kerja sama antara perusahaan media dan platform digital, termasuk dalam hal bisnis, monetisasi, serta peningkatan kapasitas.

“Kami menyediakan fasilitasi bagi perusahaan media untuk menjalin kemitraan, mengikuti pelatihan, dan memanfaatkan fitur monetisasi demi memperkuat pemasukan perusahaan,” katanya.

Alexander menambahkan bahwa Indonesia memiliki karakter budaya komunikasi yang khas, sehingga proses negosiasi dengan platform digital global kerap harus melibatkan persetujuan dari berbagai pihak terkait.

Baca Juga :  Asda II Kota Bekasi: Pembentukan Lembaga PTJSL Masih dalam Proses, Kewenangan Bapelitbangda

“Kami terus mendorong peningkatan regulasi agar media memiliki posisi yang kuat dalam bernegosiasi dengan platform,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, dirinya mengajak perusahaan pers untuk lebih aktif memanfaatkan fitur-fitur canggih yang disediakan platform digital agar dapat bersaing dan memperkuat keberlanjutan bisnis media.

Simposium tersebut juga menghadirkan narasumber kedua, Agus Sudibyo, yang menjabat sebagai Dewan Pengawas LPP TVRI.

Dalam pemaparannya, Anggota Dewan Pengawas LPP TVRI, Agus Sudibyo, menjelaskan kondisi nyata perusahaan media saat ini yang sedang menghadapi tantangan besar.

“Jika kita membayangkan Indonesia Emas 2045, maka dua puluh tahun ke depan tidak akan mudah. Tantangan media dua sampai tiga tahun ke depan saja sudah semakin kompleks dan sulit diperkirakan,” ujarnya.

Agus menyebut situasi media saat ini berada dalam ketidakseimbangan antara jumlah perusahaan pers dan kemampuan ekonomi yang menopang industri tersebut.

“Jumlah media tidak seimbang dengan kondisi ekonomi kita. Setiap tahun ratusan media terus berdiri tanpa mengindahkan realitas ekonomi yang ada,” katanya.

Ia juga menyoroti persoalan tanggung jawab bersama di antara pelaku industri media, termasuk peran organisasi seperti SMSI dalam memperjuangkan ekosistem yang lebih adil, khususnya terkait insentif dan hubungan dengan platform digital.

Baca Juga :  Seorang Bapak di Teep Trans Amurang Barat Menderita Komplikasi Paru-paru Butuh Uluran Tangan

Dalam pemaparannya, Agus turut menyinggung perkembangan kecerdasan buatan (AI).

“AI seperti ChatGPT akan semakin cerdas jika data yang diproduksi benar, baik yang berasal dari media sosial, konten buatan AI sendiri, maupun konten media massa,” ucapnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada konten yang dibangun AI dapat berdampak negatif.

“Dari tiga sumber itu, jika kualitasnya rendah, maka AI justru bisa meracuni. Semakin tidak cerdas datanya, semakin bodoh hasilnya,” ujarnya.

Agus menilai situasi bisa menjadi semakin kompleks ketika mayoritas media menggunakan AI untuk produksi konten.

“Bayangkan jika dari 1.000 media, 900 di antaranya memakai AI. Kita bisa banjir konten, sementara kualitasnya belum tentu membaik,” katanya.

Ia juga menyoroti tantangan model bisnis media yang kian berat.

“Biaya produksi tinggi, persaingan iklan ketat. Pertanyaannya, jualannya di mana? Iklannya di mana? Dua tahun ke depan media massa di Indonesia akan seperti apa?” ujarnya.

Simposium Nasional SMSI tersebut ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif antara peserta dan narasumber. (*)

Berita Terkait

Seleksi Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Batch 5 Berlangsung 17–23 September
Bawaslu Minsel Diduga Pakai Perusahaan Bodong dan Barang Pengadaan Bekas Saat Pilkada 2024
Kemnaker: 81.171 Lowongan Kerja Aktif di Karirhub Masih Terbuka
HIPMI Kota Bekasi Dorong Pengusaha Muda Naik Kelas Lewat Orientasi Batch 4
Jadi Sorotan, Anggaran BumDes Makaaruyen Modoinding Diduga Disalahgunakan
Praktisi Hukum Sulut Soroti Sengketa Pilhut Tumpaan Minsel 2022: Kenapa Bupati Berani Tidak Jalankan Putusan
Pemdes Pinaling Amurang Timur Gelar HUT Desa Ke 135 Tahun, Berbagai Lomba Diadakan
Erupsi Anak Krakatau Berdampak ke Bekasi, Tri Minta Perhatian Lebih untuk Anak dan Lansia

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 16:26 WIB

Seleksi Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Batch 5 Berlangsung 17–23 September

Selasa, 15 September 2026 - 09:48 WIB

Bawaslu Minsel Diduga Pakai Perusahaan Bodong dan Barang Pengadaan Bekas Saat Pilkada 2024

Senin, 14 September 2026 - 22:20 WIB

Kemnaker: 81.171 Lowongan Kerja Aktif di Karirhub Masih Terbuka

Sabtu, 12 September 2026 - 14:42 WIB

HIPMI Kota Bekasi Dorong Pengusaha Muda Naik Kelas Lewat Orientasi Batch 4

Kamis, 10 September 2026 - 13:34 WIB

Jadi Sorotan, Anggaran BumDes Makaaruyen Modoinding Diduga Disalahgunakan

Berita Terbaru

Ketenagakerjaan

‎Talenta Vokasi Indonesia Raih 9 Penghargaan di WSC Shanghai 2026

Selasa, 29 Sep 2026 - 14:26 WIB