Telusur News, Kota Bekasi — Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Kota Bekasi mulai memanaskan mesin menuju Porprov 2026. Melalui rapat koordinasi yang digelar Kamis (16/04/2026) di Rumah Makan Cibiuk, Rawalumbu, para pengurus tak hanya berkumpul untuk silaturahmi, tetapi juga membedah kesiapan atlet yang akan membawa nama besar Bekasi di atas ring.
Rakor ini menjadi titik penting. Bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang konsolidasi menghadapi dua medan sekaligus: ajang nasional dan target juara di Porprov.
Wakil Ketua Harian Pertina Kota Bekasi, Wirajul Zalukhu Gea, mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat, Pertina Bekasi akan tampil di Kejurnas Open Tournament Piala Kasau—sebuah ajang bergengsi yang menjadi bagian dari uji tanding menuju Porprov.
“Kami mengutus 5 atlet laki-laki dan 5 atlet perempuan. Bahkan, Pertina Kota Bekasi menjadi satu-satunya yang mewakili Jawa Barat. Ini sekaligus try out penting bagi tim Porprov,” ujarnya.
Menariknya, keikutsertaan tersebut bukan sekadar undangan biasa. Pertina Kota Bekasi mendapat undangan khusus dari TNI AU—sebuah pengakuan bahwa kualitas atlet Bekasi mulai diperhitungkan di level nasional.
Namun di balik kebanggaan itu, pekerjaan rumah tetap menumpuk. Rakor juga membahas kebutuhan mendasar atlet, mulai dari pola latihan hingga kesiapan fisik dan mental dalam menghadapi kompetisi berlapis.
Pelatih, Coach Marteen, menegaskan bahwa untuk menghadapi Porprov, tim tidak ingin setengah hati. Langkah konkret pun diambil.
“Kita putuskan membuat training center (TC) sendiri di Sasana Esa Lalan. Ini untuk memastikan fokus dan kualitas latihan atlet,” jelasnya.
Langkah ini menunjukkan keseriusan. Tapi di saat yang sama, juga menjadi sinyal bahwa pembinaan masih sangat bergantung pada inisiatif internal, bukan sistem yang sepenuhnya mapan.
Ketua Harian Pertina Kota Bekasi, Agustinus, tak menampik persoalan klasik yang terus menghantui: anggaran.
“Bicara prestasi, anggaran itu penting. Tapi bukan berarti kita berhenti kalau terbatas. Kita tetap jalan,” tegasnya.
Nada optimisme juga disampaikan Ketua Pertina Kota Bekasi, Ricky Suhendar. Dalam momentum Halal Bihalal yang dirangkai dengan rakor, ia menegaskan fokus utama tetap pada prestasi atlet.
“Kita ingin mempertahankan tradisi juara. Tapi memang, kebutuhan atlet sekarang tidak cukup hanya latihan. Mereka butuh asupan gizi, mental yang kuat, dan dukungan penuh,” ujarnya.
Ricky secara terbuka mengakui bahwa tantangan terbesar bukan pada kualitas atlet, melainkan pada dukungan pendanaan yang belum sepenuhnya ideal.
“Kendala utama memang pendanaan. Tapi kita pakai sistem kekeluargaan. Semua kita pikirkan bersama agar kebutuhan atlet tetap terpenuhi—baik fisik, mental, maupun kesejahteraannya,” tambahnya.
Di tengah keterbatasan, Pertina Kota Bekasi justru menegaskan identitasnya: sebagai salah satu kekuatan tinju di Jawa Barat. Rekam jejak prestasi menjadi bukti bahwa pembinaan berjalan, bahkan dari level usia dini.
“Kita dikenal sebagai kekuatan di Jawa Barat. Atlet kita sudah terbiasa tampil di Kejurnas dan pulang membawa prestasi,” tegas Ricky.
Namun pertanyaan besarnya tetap menggantung:
Seberapa lama semangat bisa menutup celah keterbatasan?
Rakor ini pada akhirnya bukan hanya soal persiapan teknis. Ia menjadi cermin—bahwa di balik ambisi mempertahankan gelar juara, masih ada pekerjaan besar yang harus dituntaskan, terutama dalam hal dukungan nyata terhadap atlet.
Di atas ring nanti, yang bertarung adalah atlet.
Tapi di balik layar, yang diuji adalah sistem.
(DMS)
















