Pidato Kebudayaan Bonnie Triyana Ramai Pengunjung

- Jurnalis

Sabtu, 17 Juni 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LEBAK – Kehadiran sejarawan nasional, Bonnie Triyana sebagai pembicara dalam Pidato Kebudayaan di Festival Seni Multatuli di Rangkasbitung, Lebak, menjadi magnet bagi warga yang senang mempelajari sejarah, Jum”at malam (16/6/2023)

Jumlah kursi yang disediakan panitia pun tak cukup, karena begitu antusias dan banyaknya pengunjung Festival yang ingin menyaksikan pidato budaya sejarawan kelahiran Rangkasbitung itu.

Nampak dari unsur pemerintahan hadir Wakil Bupati Lebak, Ade Sumardi, Asisten Daerah Pemkab Lebak, Ajis Suhendi dan Kepala UPT Museum Multatuli.

Selain itu juga ada puluhan mahasiswa dari Universitas Tirtayasa, yang sengaja datang dari Serang ke Rangkasbitung untuk menyaksikan pemaparan sejarawan Bonnie.

Bonnie Triyana menyampaikan pidato budaya berjudul Sepuluh Warisan Kolonialisme dalam Kehidupan Kita.

Dalam paparannya, Bonnie mengungkap setidaknya ada sepuluh warisan dampak kolonialisme dalam kehidupan sekarang.

Pertama dalam bidang pendidikan, Bonnie menggambarkan bahwa hanya 5 persen masyarakat yang bisa membaca dan menulis huruf latin pada awal kemerdekaan tahun 1945. Hal ini karena pemerintah kolonial hanya menyediakan pendidikan bagi partikelir dan bangsawan.

Baca Juga :  Target PAD di Dinas Damkar Kota Bekasi: Realisasi Mencapai 37 Persen

“Ada juga pada masa kolonial berdiri sekolah swasta, yang dianggap sekolah liar. Sekolah swasta ini tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah kolonial,” kata Bonnie.

Lanjut dia, pada masa sekarang, banyak orang tua dari kelas menengah dan atas yang mengirim anaknya sekolah ber kurikulum Internasional yang fasilitas pendidikannya di atas rata-rata sekolah negeri
.
Kedua ada jejak feodalisme. Dia menjelaskan tentang Adipati yang bertugas memantau kegiatan masyarakat dalam sektor agraris dan pemberian upeti dari masyarakatnya. Selain itu, jabatan,-jabatan terendah harus memberikan hadiah kepada atasannya agar jabatannya bisa bertahan.

Hal ini memiliki pola yang sama dengan feodalisme gaya baru hari ini.

Ketiga bidang kesehatan. Persoalan kurang gizi dan stunting pada masa kolonialisme juga masih terjadi sekarang ini

Keempat diskriminasi sosial. Warisan kolonial ini masih ada seiring dengan masih adanya ujaran kebencian dan labeling pada ras tertentu.

Kelima, trauma pada paham kiri dan kanan. Pada saat pecah perang Jawa, 20 Juli 1825, kata “santri’ menjadi kata hinaan Mereka yang dicurigai memiliki simpati kepada santri (sebutan untuk mereka yang memihak Pangeran Diponegoro diberi perlakuan khusus.

Baca Juga :  Warga Bekasi Utara Bantah Klaim Disdukcapil Bekasi: Bagaimana Mungkin Adik Jadi Kepala Keluarga di KK Ibu Saya?

Hingga saat ini, Islamis masih dipandang sebagai kelompok yang seharusnya tunduk dan tidak patut bersuara.

Keenam, kekerasan yang menjadi resolusi ketika merespon segala hal yang terjadi di status qua.

Saat ini kekerasan masih terus menjadi warisan dan hal yang normal di masyarakat. Kita sering berani menghakimi kasusl di masyarakat.

Ketujuh, adalah mitos buruh malas. Kedelapan, adanya stratifikasi sosial yang menyebabkan diskriminasi terhadap kelas bawah.

Kesembilan, patriaki dalam politik dan kesepuluh, apartheid dalam pembangunan kota.

Usai Bonnie menutup pidatonya, hadirin kemudian memanfaatkan momen itu berpoto bersama.

Wakil Bupati Lebak juga sempat bertanya jawab dengan mahasiswa Untirta seputar paparan yang disampaikan Bonnie.

Salah satu warga yang turut menyaksikan acara itu hingga selesai, Ace Sumiarsa (40) mengaku mendapat tambahan pengetahuan sejarah.

“Sejarah memang menarik, dan ternyata kejadian sejarah bisa berulang pada masa berikutnya,,” kata Ace.

Dia berharap, kegiatan serupa bisa semakin sering diadakan. (*)

Berita Terkait

Peluit Kontroversial, Air Mata Orang Tua: Ibu-Ibu Bekasi Bela Perjuangan Atlet
Peluit yang Melukai Sportivitas: Tim Basket Putra Kota Bekasi Soroti Kepemimpinan Wasit di Semifinal!
Basket Putri Kota Bekasi Tundukan Bandung Barat 51-27, Maju Perempat Final
BPC HIPMI Kota Bekasi Bekali Pemenang Technopreuner Camp Strategi Bisnia Era Digitalisasi
Business Matching Day Bogor-Bekasi-Depok, HIPMI Kota Bekasi Perkuat Ekosistem Bisnis, Peluang Pasar dan Supplier Makin Terbuka
Temy Hermanto Sambut Peluang Proyek Konstruksi: Saatnya Pengusaha Muda Tumbuh dan Buka Lapangan Kerja
Pendaftaran Anugerah Jurnalistik KPU 2026 Resmi Dibuka, Angkat Tema 73 Tahun KPU RI Kawal Demokrasi Indonesia
Ketika Puskesmas Pondok Gede Mengetuk Pintu Rumah Balita Stunting

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 03:18 WIB

Peluit Kontroversial, Air Mata Orang Tua: Ibu-Ibu Bekasi Bela Perjuangan Atlet

Sabtu, 7 November 2026 - 02:41 WIB

Peluit yang Melukai Sportivitas: Tim Basket Putra Kota Bekasi Soroti Kepemimpinan Wasit di Semifinal!

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:26 WIB

BPC HIPMI Kota Bekasi Bekali Pemenang Technopreuner Camp Strategi Bisnia Era Digitalisasi

Minggu, 18 Oktober 2026 - 18:02 WIB

Business Matching Day Bogor-Bekasi-Depok, HIPMI Kota Bekasi Perkuat Ekosistem Bisnis, Peluang Pasar dan Supplier Makin Terbuka

Kamis, 15 Oktober 2026 - 13:14 WIB

Temy Hermanto Sambut Peluang Proyek Konstruksi: Saatnya Pengusaha Muda Tumbuh dan Buka Lapangan Kerja

Berita Terbaru