oleh

TELUSUR SOLUSI: Pengelolaan Sampah Butuh Kerjasama Antar Masyarakat dan Dinas Terkait

“3 R, yaitu Reduce, Re use dan Recycle adalah way out pengendalian banjir terkait sampah di Kota Bekasi”, -Zeno Bachtiar, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi-

KOTA BEKASI, Telusur News – Kalimat diatas adalah ‘stroking point dan closing statement’ yang disampaikan Zeno Bachtiar, Sekdis Lingkungan Hidup Kota Bekasi menutup acara forum diskusi Telusur Solusi yang bertema Pengelolaan Sampah, Korelasi Solusi Banjir di Kota Bekasi. Acara diskusi yang diadakan di Mall Grand Kemala Lagoon, Kamis sore(18/11/2021).

Diskusi Telusur Solusi yang digelar oleh Media Telusur News, kali ini dihadiri oleh 3 pembicara dari 3 dinas terkait antara lain, Dinas Lingkungan HidupĀ  Dinas Bina Marga dan Sumber Mata Air(DBMSDA) dan Dinas Tata Ruang(Distaru) Kota Bekasi. Dinas Lingkungan Hidup yang diwakili oleh Sekretaris Dinas Zeno Bachtiar, Kabid Sumber Daya Air, Kabid Pengendalian Tata Ruang Distaru Kota Bekasi. Acara yang sudah berlangsung 10 kali tayang dalam tiap minggunya diminati oleh banyak kalangan yang terbukti dari banyaknya like dan subscribed yang didapatkan setiap tayang episode.

“Pematusan sampah sudah dilakukan secara berkala dan rutin, terutama memasuki masa penghujan di akhir tahun. Sampah adalah masalah bersama dan butuh kesadaran yang tinggi dari masyarakat untuk mentertibkan diri meminimalisir sampah yang dimulai dari rumah tangga. Siang ini, kami dari BMSDA sedang menertibkan bangunan liar Bekasi Utara yang menghalangi arus air”, papar Risman Nafar Tridarajat, Kabid DBMSDA Kota Bekasi.

Hal yang sama dikatakan juga oleh M. Iqbal Bayuaji Kabid Pengendalian Tata Ruang dari Dinas Tata Ruang Kota Bekasi yang datang terlambat di acara diskusi. Iqbal mengatakan bahwa dalam penegakan perda terkait penertiban bangunan liar di garis sepadan sungai(GSS) yang berada di pinggiran sungai mereka sering dihadapkan antara ketegasan dan juga empati. “Saat dihadapkan dengan masyarakat yang bisa dikatakan hidup digaris kemiskinan dan bergantung hidup diarea tersebut, maka rasa empati menjadi satu ujian dimana perda tetap harus ditegak kan”, pungkasnya.

Acara diskusi yang berlangsung hampir 1 jam tersebut dihibur juga oleh organ tunggal ‘Bang Edo’ dan berkolaborasi dengan Bekasipedia ‘Bang Pede’. Acara pun usai dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. (Dmach)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed