PWI Bangkit dari Perpecahan: Islah Zulmansyah-Hendry Jadi Titik Balik Sejarah Baru

- Jurnalis

Kamis, 22 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ketua PWI Bekasi Raya Ade Muksin, SH.

BEKASI – Sebuah babak penting dalam sejarah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) akhirnya terbuka. Setelah bertahun-tahun tersandera oleh perpecahan internal, dua tokoh sentral yang selama ini berada di poros berbeda, Zulmansyah Sakedang dan Hendry Ch Bangun, memilih jalan damai.

Dalam pertemuan bersejarah yang digelar di Jakarta pada 16 Mei 2025, keduanya sepakat mengakhiri dualisme dan menetapkan Kongres PWI paling lambat 30 Agustus 2025 sebagai forum demokratis untuk menentukan kepemimpinan sah PWI ke depan.

Kesepakatan ini sontak disambut dengan rasa syukur dan haru oleh berbagai elemen PWI dari Sabang hingga Merauke. Dari ruang redaksi hingga kantor PWI daerah, harapan baru mengalir deras—bahwa PWI akan kembali menjadi organisasi yang bersatu, bermartabat, dan profesional.

“Ini adalah kemenangan nurani, bukan sekadar kompromi politik. Kami menyambutnya dengan penuh optimisme. Islah ini adalah momentum emas yang telah lama kami nanti,” ujar Ade Muksin, Ketua PWI Bekasi Raya, saat ditemui Rabu (21/5/2025).

*Kongres Bukan Sekadar Agenda, Tapi Komitmen Moral*

Bagi pengurus daerah, kongres mendatang bukanlah formalitas. Ia menjadi panggung pertanggungjawaban sejarah. Kongres akan menjadi cermin kesungguhan semua pihak dalam membangun kembali PWI sebagai benteng independensi dan etika jurnalistik Indonesia.

Baca Juga :  Kantor Imigrasi Jakarta Timur Lakukan Pengamanan WNA Investor Fiktif

“Kongres ini harus sah, jujur, dan mencerminkan kehendak murni anggota. Hanya pengurus hasil konferensi yang sah yang layak memberi suara, bukan Plt hasil penunjukan darurat,” tegas Hilman Hidayat, Ketua PWI Jawa Barat.

Ia juga mengingatkan bahwa konflik internal selama ini tak hanya melukai organisasi, tetapi juga mencederai kepercayaan publik terhadap pers sebagai institusi sosial.

“PWI harus kembali jadi rumah bersama. Tak boleh ada lagi sekat-sekat, ego sektoral, atau kooptasi kekuasaan. Ini panggilan sejarah,” lanjutnya.

*Kesepakatan Jakarta: Cahaya di Tengah Fragmentasi*

Momentum damai yang kini dikenal sebagai “Kesepakatan Jakarta” tidak lahir tiba-tiba. Ia adalah hasil dari proses panjang—dari saling memahami hingga keberanian menundukkan ego demi kepentingan bersama.

Di era ketika media menghadapi tekanan berat—mulai dari disrupsi teknologi hingga krisis kepercayaan—PWI dituntut tidak sekadar hadir, tapi memimpin arah perubahan.

“Islah ini adalah refleksi spiritual organisasi. Kita tidak bisa terus menyandera masa depan pers Indonesia karena perbedaan masa lalu. Saatnya kembali ke semangat awal: membina jurnalis yang tangguh dan berintegritas,” ujar Dr. Arya Prasetya, pengamat media sekaligus mantan pengurus pusat PWI.

Baca Juga :  Felly Runtuwene Hadiri Peluncuran Minyak Tawaang Tepat di Hari Kartini: Jadilah Kartini-Kartini Moderen

*PWI Masa Depan: Menyatukan, Menguatkan, Mencerahkan*

PWI Bekasi Raya menyatakan siap mendukung penuh pelaksanaan kongres serta memastikan transisi organisasi berjalan damai, demokratis, dan transparan.

“Kami ingin PWI tak sekadar besar secara nama, tetapi juga besar pengaruhnya dalam membentuk ekosistem media yang sehat dan bertanggung jawab. Ini tanggung jawab moral kita sebagai wartawan,” pungkas Ade Muksin.

Kini, perhatian tertuju pada Kongres PWI yang akan datang. Apakah ini benar-benar menjadi awal baru atau hanya jeda dari konflik lama? Jawabannya bergantung pada komitmen dan integritas seluruh anggota.

Namun satu hal sudah pasti: organisasi yang pernah terpecah kini punya peluang langka untuk lahir kembali—lebih kuat, lebih bijak, dan lebih relevan.

Redaksi akan terus memantau perkembangan menuju Kongres PWI 2025, demi memastikan organisasi wartawan tertua di Indonesia ini kembali pada khitahnya sebagai pelindung kebebasan pers dan penjaga etika profesi. (*)

Berita Terkait

Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri.
Tak Bisa Hadir, Anggota DPR RI Bonnie Triana Titip Salam Hangat Lewat Ketua DPRD Lebak Saat Penyerahan PIP
Hari Lingkungan Hidup 2026, Plh. Wali Kota Bekasi Dukung Penguatan Gerakan Indonesia Asri
Militan Gibran Nusantara Bersiap Deklarasi, Ketua Panitia: Perkuat Pengawasan Program Pemerintah
LI-TIPIKOR Akan Laporkan Indikasi Dugaan Penyalahgunaan Dana Desa Pinabetengan
‎Aktivis Sosial Desak Pemkot Bekasi Tegas Sanksi Oknum PPPK Terkait Kasus Narkoba
DPD KNPI Jawa Barat Tunjuk Dhony Haryanto Sebagai Ketua Karetaker KNPI Kota Bekasi
Terima Kunjungan DPRD Kota Banjarbaru Plh Wali Kota Harris Bobihoe Bahas Peningkatan PAD

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 10:16 WIB

Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri.

Minggu, 7 Juni 2026 - 21:38 WIB

Tak Bisa Hadir, Anggota DPR RI Bonnie Triana Titip Salam Hangat Lewat Ketua DPRD Lebak Saat Penyerahan PIP

Sabtu, 6 Juni 2026 - 22:04 WIB

Hari Lingkungan Hidup 2026, Plh. Wali Kota Bekasi Dukung Penguatan Gerakan Indonesia Asri

Sabtu, 6 Juni 2026 - 14:34 WIB

Militan Gibran Nusantara Bersiap Deklarasi, Ketua Panitia: Perkuat Pengawasan Program Pemerintah

Sabtu, 6 Juni 2026 - 10:03 WIB

LI-TIPIKOR Akan Laporkan Indikasi Dugaan Penyalahgunaan Dana Desa Pinabetengan

Berita Terbaru

Berita

Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri.

Senin, 8 Jun 2026 - 10:16 WIB