Tanggapi Pidato Ketua DPR RI Puan Maharani, Bamsoet Dukung Pembenahan Partai Politik dan Sistem Demokrasi

- Jurnalis

Jumat, 15 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo menegaskan pentingnya pembenahan menyeluruh terhadap partai politik, sekaligus melakukan evaluasi mendasar terhadap sistem demokrasi langsung yang diterapkan Indonesia sejak reformasi. Selama dua dekade lebih, demokrasi langsung di Indonesia telah melahirkan dinamika politik yang kompleks. Di satu sisi, membuka ruang partisipasi rakyat secara luas, namun di sisi lain memunculkan ekses serius berupa politik biaya tinggi dan maraknya praktik politik uang.

“Pernyataan Ketua DPR RI Puan Maharani dalam Pidato Pengantar Sidang Bersama DPR RI-DPD RI sudah tepat. Menggugah kesadaran bahwa partai politik harus mampu berbenah diri. Partai politik bukan sekadar kendaraan menuju kekuasaan. Melainkan sokoguru kedaulatan rakyat yang menentukan arah perjalanan bangsa,” ujar Bamsoet usai menghadiri Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI tahun 2025 di Gedung Parlemen, Jakarta, Jumat (15/8/25).

Hadir antara lain Presiden RI Prabowo Subianto, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Wakil Presiden ke-10 dan 12 Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-11 Boediono, Wakil Presiden ke-13 Ma’ruf Amin, istri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah, istri Wakil Presiden ke-9 Hamza Haz, Soraya Hamzah Haz, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPR RI Puan Maharani, Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin serta para ketua umum partai politik.

Baca Juga :  Hadiri Adhyaksa Awards 2024, Ketua MPR RI Bamsoet Dorong Peningkatan Kinerja dan Profesionalitas Kejaksaan

Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini mendorong agar partai politik terus melakukan pembenahan internal secara serius. Partai harus menjadi kawah candradimuka yang melahirkan kader-kader terbaik bangsa, bukan sekadar mesin politik bagi mereka yang memiliki modal besar. Untuk itu, sistem rekrutmen kader harus lebih terbuka, berbasis meritokrasi, dan memberikan ruang bagi anak-anak muda, perempuan, serta tokoh-tokoh daerah yang berintegritas.

“Pembenahan partai politik tidak akan efektif tanpa pembaruan sistem demokrasi. Perlu dikaji ulang juga pelaksanaan Pemilu langsung dalam pemilihan kepala daerah, legislatif dan presiden, dengan mempertimbangkan format yang lebih efisien secara biaya, namun tetap menjaga legitimasi rakyat. Bukan berarti kita kembali ke era demokrasi tertutup. Tetapi, perlu dipikirkan model yang meminimalkan biaya, menekan politik uang, dan tetap mengedepankan prinsip kedaulatan rakyat,” kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini memaparkan, data Transparency International Indonesia (TII) 2024 menunjukkan lebih dari 60 persen kandidat kepala daerah mengakui beban biaya kampanye menjadi faktor paling memberatkan dalam kontestasi. Sementara itu, penelitian LIPI pada 2023 memperkirakan biaya pencalonan bupati atau wali kota bisa mencapai Rp 20-30 miliar. Bahkan, untuk level gubernur bisa menembus Rp 100 miliar.

Baca Juga :  Melalui Balai Pengobatan Amfhibi, Pelaksanaan Serbuan Vaksinasi Maritim TNI AL Terus Dikebut di Jayapura

“Biaya politik yang begitu tinggi ini mendorong para kandidat untuk mencari sponsor atau investor politik, yang pada akhirnya menimbulkan ketergantungan dan membuka celah praktik korupsi ketika mereka menjabat. Inilah lingkaran setan yang harus kita putus jika ingin demokrasi kita benar-benar sehat,” tegas Bamsoet.

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia dan Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini mengingatkan, politik uang juga menjadi ancaman serius bagi kualitas demokrasi. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mencatat, pada Pemilu 2024 terdapat 521 laporan dugaan politik uang yang tersebar di berbagai daerah. Dengan modus mulai dari pembagian uang tunai, paket sembako, hingga janji proyek. Fenomena ini tidak hanya merusak moralitas politik, tetapi juga mematikan gagasan. Karena kemenangan lebih ditentukan oleh kemampuan finansial, ketimbang kualitas dan integritas calon.

“Kita tidak boleh membiarkan demokrasi kita dikendalikan oleh campur tangan modal dan buah tangan transaksi. Demokrasi harus kembali menjadi milik rakyat yang melahirkan pemimpin berani, berpihak, dan bekerja demi kepentingan bangsa,” pungkas Bamsoet. (*)

Berita Terkait

SMSI Dukung ADI Perjuangkan Kelayakan Gaji Dosen
Wali Kota Bekasi Kirim Ucapan Selamat Hari Raya Iduladha 1447 H untuk Warga Kota Bekasi
PLN UID Jabar Siagakan 4.993 Personel dan Layanan Digital 24 Jam Selama Idul Adha dan Waisak 2026
Ali Akbar, Sosok Teladan di Balik Gemilangnya Olahraga Kota Bekasi
Reses di Sukrendah, Ketua DPRD Lebak Terima Keluhan BPJS Nonaktif dan Akurasi Data Desil Masyarakat
PERADI PROFESIONAL: Paradigma Baru Organisasi Advokat Indonesia
Dinas Perkimtan Kota Bekasi Targetkan Perbaikan Rutilahu dan Fasilitas Publik
‎Kota Bekasi Kejar Target Penyelesaian Infrastruktur Olahraga Jelang Porprov

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:36 WIB

SMSI Dukung ADI Perjuangkan Kelayakan Gaji Dosen

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:02 WIB

Wali Kota Bekasi Kirim Ucapan Selamat Hari Raya Iduladha 1447 H untuk Warga Kota Bekasi

Selasa, 26 Mei 2026 - 20:08 WIB

PLN UID Jabar Siagakan 4.993 Personel dan Layanan Digital 24 Jam Selama Idul Adha dan Waisak 2026

Selasa, 26 Mei 2026 - 12:49 WIB

Ali Akbar, Sosok Teladan di Balik Gemilangnya Olahraga Kota Bekasi

Selasa, 26 Mei 2026 - 09:28 WIB

Reses di Sukrendah, Ketua DPRD Lebak Terima Keluhan BPJS Nonaktif dan Akurasi Data Desil Masyarakat

Berita Terbaru

Berita

SMSI Dukung ADI Perjuangkan Kelayakan Gaji Dosen

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:36 WIB