KOTA BEKASI — Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Bekasi, ternyata terus memperkuat komitmen pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam hal penanganan kegawatdaruratan kebakaran serta evakuasi penyelamatan non-kebakaran.
Dengan mengusung prinsip respons cepat, masyarakat diimbau untuk segera memanfaatkan berbagai saluran pengaduan resmi yang telah disediakan oleh pemerintah kota.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Bekasi, Sumpono Bram, melalui Sekretaris Dinas, Heryanto AP, menjelaskan bahwa pihaknya membuka akses seluas-luasnya bagi warga yang membutuhkan bantuan darurat melalui command center dan call center terpadu.
”Pelaporan bisa kita terima dari yang bersangkutan yang membutuhkan bantuan melalui call center di 112, yaitu call center kegawatdaruratan Kota Bekasi, dan nanti akan diteruskan kepada kita. Tapi juga kita ada punya pengaduan langsung dengan nomor telepon di 021-88957805, dan ada layanan WhatsApp juga di 0811165112,” ujar Hery, saat diwawancarai, Rabu (16/09/2026) di ruang kerjanya.
Ia menambahkan bahwa sistem pelaporan di Disdamkarmat dirancang berjenjang. Sumber laporan utama umumnya didapat dari masyarakat yang mengetahui kejadian pertama kali di lokasi (first-time callers) agar tim dapat segera bergerak cepat merespons aduan.
”Pelaporan ini biasanya kita dapat dari orang yang mengetahui waktu pertama di lokasi kejadian. Jadi ketika itu pasti alhamdulillah langsung bisa menghubungi call center kita. Kita punya yang namanya Command Center yang mengolah data dan informasi untuk disalurkan kepada tim agar bergerak, baik pemadaman maupun penyelamatan,” pungkas Hery.
Selain pemadaman kebakaran, Disdamkarmat Kota Bekasi juga mengampu berbagai Standar Operasional Prosedur (SOP) penyelamatan yang sering kali dibutuhkan masyarakat. Berbagai kasus unik dan darurat non-kebakaran telah berhasil ditangani oleh petugas di lapangan.
”Yang sering kita dapati permintaan pertolongan misalnya animal rescue; ular, biawak, buaya—buaya pernah tuh di Ciketing Udik—lalu pelepas dan cincin kejebak yang sering, dan yang lain-lain,” ungkap Hery.
Meski fokus utama layanan damkar adalah penyelamatan jiwa (lifesaving) dan meminimalisir risiko harta benda, pihak Disdamkarmat tetap melayani berbagai bentuk aduan masyarakat dengan tingkat kepuasan publik yang diklaim telah mencapai angka 98 persen.
”Fokus pelayanan damkar adalah pada penyelamatan jiwa dan mengurangi dampak dari resikonya seperti harta benda. Ketika itu tidak berkaitan dengan kegawatdaruratan penyelamatan jiwa, itu bisa kita sampaikan secara lisan. Alhamdulillah, saat ini indeks kepuasan masyarakat untuk damkar sudah 98 persen,” jelas Hery.
Terkait standar waktu tanggap (response time), pihak dinas mematok target 15 menit dari awal pelaporan hingga penanganan di lokasi, kendati tantangan di lapangan kerap kali berasal dari kendala kemacetan lalu lintas (traffic jam).
Berdasarkan data operasional dari bulan Januari hingga September, Disdamkarmat Kota Bekasi mencatat ribuan insiden penanganan di wilayah Kota Bekasi yang terbagi ke dalam 9 sektor operasional dari total 12 kecamatan. Tercatat ada 1.841 kasus penyelamatan (rescue) dengan wilayah Bekasi Selatan mendominasi jumlah kejadian terbanyak, serta 283 kasus kebakaran.
Dalam upaya perluasan jangkauan layanan, pengembangan sektor baru terus diupayakan untuk wilayah Bekasi Timur, Bekasi Barat, dan Pondok Melati, meskipun tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah ketersediaan lahan dan fasilitas penunjang (PSU).
Menutup keterangannya, pihaknya menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap keselamatan jiwa serta pentingnya penanganan awal saat menghadapi situasi darurat guna menekan risiko yang lebih besar.
”Keselamatan jiwa menjadi penting dan menjadi utama. Untuk itu, masyarakat kita harapkan mampu melindungi dirinya secara langsung. Artinya, ketika kejadian kebakaran, masyarakat mempunyai edukasi terhadap bagaimana penanganan awal, karena kepanikan adalah faktor utama ketika dalam proses kejadian kebakaran. Kalau dia tidak panik, dia bisa menanggulangi, insya Allah tidak akan terjadi lebih besar.” tutup Hery. (Jim/M-3L)
















