Kota Bekasi — Puskesmas Duren Jaya menunjukkan langkah nyata dalam menjaga kesehatan generasi muda dengan melaksanakan kegiatan deteksi dini thalasemia bagi siswa kelas 7 dari enam sekolah menengah pertama (SMP) di wilayah kerjanya, Jumat–Sabtu (30–31 Oktober 2025).

Kegiatan yang diikuti oleh 534 siswa ini merupakan bagian dari program nasional Cegah Thalasemia Sejak Dini yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Kota Bekasi.
Thalasemia sendiri merupakan penyakit kelainan genetik pada sel darah merah yang menyebabkan umur sel darah menjadi lebih pendek dari normal. Penyakit ini tidak menular, namun dapat diturunkan dari kedua orang tua kepada anak-anak mereka.
Penyandang thalassemia mayor harus menjalani transfusi darah seumur hidup. Karenanya, upaya pencegahan melalui deteksi dini menjadi langkah penting untuk menekan angka kelahiran bayi dengan thalasemia baru.
534 Siswa Disaring, 48 Terindikasi Anemia
Dalam kegiatan skrining awal, tim kesehatan menemukan 48 siswa terindikasi anemia dengan kadar hemoglobin (Hb) di bawah 12 g/dL — terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 30 siswi perempuan.
Mereka kemudian dijadwalkan untuk menjalani pemeriksaan darah lanjutan di laboratorium Puskesmas Duren Jaya.
“Setelah hasil lab kami peroleh, bagi siswa yang hasilnya menunjukkan indikasi perlu pemeriksaan lanjutan, sampel darah akan segera dikirim ke RSUD Chasbullah Abdulmadjid (CAM) di hari yang sama. Kami ingin memastikan proses ini cepat, akurat, dan tuntas,” jelas drg. Ria Joesriati, Kepala Puskesmas Duren Jaya.
Kolaborasi Kesehatan yang Menyentuh Sekolah
Tim pelaksana kegiatan ini terdiri dari Kepala Puskesmas, dokter umum, penanggung jawab program Anak Usia Sekolah dan Remaja, penanggung jawab program Thalasemia, serta petugas laboratorium.
Seluruh rangkaian kegiatan dilakukan secara terkoordinasi di sekolah-sekolah binaan wilayah Duren Jaya.
Menurut drg. Ria, kegiatan ini bukan sekadar pemeriksaan rutin, melainkan bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap masa depan anak bangsa.
“Anak-anak adalah investasi masa depan. Melalui deteksi dini thalasemia, kami ingin memastikan generasi Bekasi tumbuh sehat, kuat, dan bebas dari risiko penyakit genetik yang bisa dicegah,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, penting bagi setiap orang tua untuk memahami bahwa pencegahan jauh lebih murah dan lebih mulia dibanding pengobatan.
“Dengan mengetahui status pembawa sifat (carrier) sejak dini, kita bisa mencegah terjadinya pernikahan sesama pembawa sifat yang berpotensi menurunkan thalasemia mayor. Ini adalah edukasi kesehatan sekaligus tanggung jawab sosial,” tambahnya.
Wujud Nyata Komitmen Kesehatan Publik
Puskesmas Duren Jaya menegaskan komitmennya untuk terus mendukung program pemerintah dalam pencegahan thalasemia dan peningkatan kesehatan anak usia sekolah.
Program seperti ini tidak hanya menekan angka kasus thalasemia di masa depan, tetapi juga memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan kesehatan genetik.
“Kami ingin Puskesmas hadir bukan hanya ketika warga sakit, tapi sebelum mereka jatuh sakit. Kesehatan adalah hak setiap anak, dan tugas kami adalah memastikan hak itu terpenuhi,” pungkas drg. Ria.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa upaya kecil di tingkat wilayah bisa membawa dampak besar bagi masa depan generasi muda Kota Bekasi. Dengan sinergi antara sekolah, tenaga kesehatan, dan dukungan orang tua, mimpi menuju Bekasi Sehat bukan sekadar slogan—tapi kenyataan yang sedang dikerjakan hari demi hari.(DM)
















