oleh

Pelaku Bisnis Perhotelan, Politisi PDIP Gelar Festival Kuliner Non Beras & Gandum di Semarang

-Nasional, Jakarta-

Krisis pangan global adalah isu penting yang jadi perhatian para pemimpin dunia saat ini. Krisis iklim dan konflik geopolitik telah memukul sektor pertanian dan pangan, terutama gandum, secara global.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menyatakan bahwa konflik dan dampak terkait iklim akan menjadi pendorong utama terjadinya krisis pangan.

Disisi lain, Indonesia baru saja mendapat penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI) karena berhasil meraih predikat swasembada beras selama tiga tahun berturut-turut. Prestasi ini tentu membanggakan, di tengah berbagai macam tantangan global seperti pandemi covid-19, krisis iklim, dan konflik geopolitik saat ini.

Meski demikian, kita tak boleh terlena. Meski berstatus swasembada beras, diversifikasi pangan di Indonesia harus digalakkan. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan pada komoditas besar pangan dunia (beras dan gandum) sekaligus menjaga dan memastikan keberjanjutan ketahanan pangan negara.

Semangat itu lah yang mendasari digelarnya Festival Kreasi Kuliner Non Beras dan Gandum, yang diinisiasi Wiryanti Sukamdani, Pelaku bisnis perhotelan sekaligus politisi PDI Perjuangan, dalam rangkaian acara Batik Specta di Semarang, Jawa Tengah, 1 Oktober 2022.

“Pemanfaatan berbagai macam makanan dari bahan-bahan yang ada di Indonesia, akan mengurangi ketergantungan kita pada gandum yang merupakan bahan pangan impor. Cara ini akan memastikan kedaulatan pangan Indonesia, di mana kita mampu menghidupi rakyat Indonesia dengan berbagai macam makanan yang memang tumbuh di Indonesia,” kata Wiryanti Sukamdani, Sabtu (1/10/2022).

Bertempat di kawasan Kota Lama Semarang, festival ini diikuti 28 hotel di Jawa Tengah dan Yogyakarta, Wiryanti Sukamdani lagi menjelaskan bahwa Hotel dipilih sebagai peserta karena sajian kulinernya kerap kali menjadi trend setter, di dunia wisata kuliner.

“Bayangkan, hotel memasak masakan berbahan singkong atau sukun, namun disajikan dengan kreatif dan lezat. Masyarakat tentu tak akan memandang sebelah mata bahan makanan asal Indonesia dan diharapkan mau melakukan hal yang sama,” ujar Wiryanti.

Dalam acara tersebut, para peserta ditantang untuk berkreasi dengan berbagai makanan pendamping beras seperti umbi-umbian, singkong, jagung, sorgum, pisang, sukun, talas, dan sagu. Seluruh peserta tampak antusias dan menyajikan berbagai kreasi kuliner istimewa. Hasilnya, berbagai panganan yang unik, kreatif, dan bercita rasa tinggi.

Meski tanpa beras dan gandum yang menjadi dua bahan pangan utama yang mendominasi kreasi kuliner saat ini, kreasi sajian yang dihadirkan seluruh peserta benar-benar menggugah selera. Terpilih sebagai juara pertama dalam festival ini adalah hotel Java Heritage Semarang, disusul Hotel Wimarion Semarang sebagai juara kedua dan Hotel Sahid Yogyakarta sebagai juara ketiga.

Untuk juara harapan 1, diraih Hotel Novotel Semarang. Sementara juara harapan 2 diraih Gets Hotel Semarang dan Hotel Pringsewu Semarang sebagai juara harapan ketiga.

Jajaran Dewan Juri dalam festival ini diketuai oleh Chef Handry Sumanto dari Indonesian Chef Association, dan anggota dewan juri diisi oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Jasa Boga, Rahayu Setiowati dan beberapa chef dan ahli gizi lainnya.(Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed