Telusur News, Kota Bekasi – Semangat memperingati kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui perayaan dan hiburan. Di Kelurahan Jatibening, momentum Semarak 17 Agustus justru dimaknai dengan menghadirkan layanan yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat, yakni kesehatan.
Puskesmas Jatibening menggelar Gebyar Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Kantor Kelurahan Jatibening, Kota Bekasi, Kamis (27/8/2026). Kegiatan diawali dengan senam bersama warga, kemudian dilanjutkan dengan berbagai layanan skrining kesehatan secara gratis.
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Puskesmas Jatibening, Kelurahan Jatibening, Lider Lab dan ICHC, dengan dukungan tenaga kesehatan serta siswa SMK Pelita Alam.
Kepala Puskesmas Jatibening, drg. Ariska Agustina, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pendekatan promotif dan preventif, sekaligus mendorong masyarakat agar tidak menunggu sakit untuk memeriksakan kondisi kesehatannya.
“Kami berharap masyarakat, khususnya warga Kelurahan Jatibening, semakin meningkatkan kesadaran untuk memeriksakan kesehatan secara berkala. Walaupun belum merasakan gejala, pemeriksaan tetap penting untuk mengetahui kondisi kesehatan dan mendeteksi faktor risiko sedini mungkin,” ujar drg. Ariska.
49 Warga Jalani Skrining, Hipertensi dan Diabetes Teridentifikasi
Antusiasme warga terlihat dari jumlah peserta yang mengikuti pemeriksaan. Dalam kegiatan tersebut tercatat 49 warga menjalani skrining kesehatan.
Dari hasil pemeriksaan dan riwayat kesehatan yang diperoleh, terdapat 10 warga dengan riwayat hipertensi (HT). Sebanyak empat di antaranya selama ini mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan di luar Puskesmas Jatibening, sedangkan enam lainnya tercatat mendapatkan pelayanan di Puskesmas Jatibening.
Sementara itu, terdapat 7 warga dengan riwayat diabetes melitus (DM). Dua pasien tercatat mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan luar, sedangkan lima pasien merupakan pasien yang mendapatkan pelayanan di Puskesmas Jatibening.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa skrining kesehatan di tingkat masyarakat memiliki arti penting. Sebab, pemeriksaan bukan hanya menemukan kondisi kesehatan seseorang pada hari itu, tetapi juga membuka pintu untuk memastikan pasien mendapatkan pemantauan dan tindak lanjut medis secara berkesinambungan.
Tak Berhenti di Skrining, Pasien Dilanjutkan Pemeriksaannya
Menariknya, kegiatan tersebut tidak berhenti pada pemeriksaan awal.
Bagi pasien dengan diabetes melitus, dilakukan pemeriksaan lanjutan HbA1c terhadap 5 orang. Pemeriksaan HbA1c penting dalam pengelolaan diabetes karena memberikan gambaran rata-rata kadar glukosa darah dalam beberapa bulan terakhir sehingga membantu tenaga kesehatan menilai pengendalian gula darah pasien.
Sementara bagi pasien dengan hipertensi, 4 orang mendapatkan pemeriksaan lanjutan berupa kolesterol sebagai bagian dari pemantauan faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pendekatan Puskesmas Jatibening tidak semata-mata mengejar jumlah warga yang diperiksa, tetapi juga berupaya memastikan warga dengan faktor risiko mendapatkan asesmen dan tindak lanjut yang sesuai.
199 Pasien DM dan 327 Hipertensi Tercatat hingga Juli
Berdasarkan data capaian Puskesmas Jatibening hingga Juli 2026, tercatat sebanyak 199 pasien diabetes melitus dan 327 pasien hipertensi.
Angka tersebut menjadi perhatian tersendiri dalam penguatan layanan penyakit tidak menular (PTM), mengingat hipertensi dan diabetes merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang.
Persoalan yang dihadapi bukan hanya menemukan pasien, tetapi memastikan pasien tetap menjalani pengobatan, melakukan kontrol secara rutin dan mampu mengendalikan faktor risiko agar tidak berkembang menjadi komplikasi.
Karena itu, Puskesmas Jatibening juga menjalankan pemantauan wilayah setempat atau PWS terhadap pasien-pasien yang membutuhkan perhatian lebih.
Sejak Januari hingga Juli 2026, terdapat 14 pasien yang telah mendapatkan tindak lanjut melalui mekanisme tersebut.
Pasien Mangkir hingga Lansia Jadi Prioritas Tindak Lanjut
Tindak lanjut tidak dilakukan secara sembarangan. Puskesmas memiliki sejumlah kriteria dalam menentukan pasien yang perlu mendapatkan perhatian lebih.
Pertama, pasien yang mangkir dari pengobatan atau tidak melakukan kontrol secara rutin.
Kedua, pasien lansia atau geriatri yang tinggal cukup jauh dari fasilitas kesehatan sehingga mengalami kesulitan untuk datang melakukan kontrol.
Ketiga, pasien yang tidak memiliki pendamping atau caregiver yang memadai, khususnya untuk membantu mengingatkan kepatuhan dalam mengonsumsi obat.
Keempat, pasien diabetes melitus maupun hipertensi yang mengalami penurunan mobilitas akibat komplikasi, seperti stroke atau gangguan penglihatan.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pelayanan kesehatan tidak berhenti di balik meja ruang pemeriksaan. Ketika terdapat pasien yang kesulitan datang ke fasilitas kesehatan, maka perhatian dan pemantauan justru harus semakin didekatkan.
Puskesmas Jemput Bola, Negara Hadir dari Lingkungan Terdekat
drg. Ariska menegaskan, kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala masih perlu terus dibangun.
Sebagian masyarakat masih cenderung melakukan pengobatan mandiri dengan membeli obat ketika muncul keluhan, tanpa melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi medis secara menyeluruh.
Padahal, hipertensi dan diabetes dapat berkembang tanpa gejala yang jelas dan baru diketahui ketika sudah menimbulkan komplikasi.
Karena itu, pemeriksaan berkala menjadi salah satu kunci untuk melakukan deteksi dini, pengendalian faktor risiko dan pencegahan komplikasi.
“Kami harapkan masyarakat dengan pengecekan atau pemeriksaan berkala bisa mencegah lebih dini faktor-faktor risiko. Kalau diabaikan, dampaknya cukup berbahaya dan dapat berkembang menjadi komplikasi serius,” ungkapnya.
Puskesmas Jatibening juga mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan pemeriksaan kesehatan sebagai sesuatu yang menakutkan.
Justru dengan mengetahui kondisi kesehatan lebih awal, seseorang memiliki kesempatan lebih besar untuk melakukan perubahan pola hidup, mendapatkan terapi yang tepat dan mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat.
Dari Senam, Skrining hingga Edukasi Kesehatan
Selain pemeriksaan tekanan darah, tinggi badan dan berat badan, kegiatan juga menghadirkan pemeriksaan mata gratis, Pap smear serta skrining TBC melalui pemeriksaan dahak bagi warga yang memiliki gejala atau faktor risiko.
Rangkaian layanan tersebut memperlihatkan bahwa kesehatan masyarakat tidak hanya berbicara mengenai penyakit yang sudah ada, tetapi juga bagaimana faktor risiko dapat ditemukan dan dikendalikan sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Tenaga Puskesmas Jatibening yang terlibat antara lain dr. Agatha Ratri, Ns. Nova Suzanna, S.Kep., Ns. Nurianna Berniati, S.Kep., Oom Komisah, A.Md.Keb., Rizqika Putri Amalia Zahro dan Syifa Nurfitriah, serta dukungan siswa SMK Pelita Alam.
Kolaborasi dengan Kelurahan Jatibening, Lider Lab dan ICHC turut memperkuat pelaksanaan kegiatan.
Semangat kemerdekaan akhirnya menemukan makna yang lebih dekat dengan kehidupan warga.
Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang membangun masyarakat yang sehat, sadar terhadap kondisi tubuhnya dan memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau.
Dari senam bersama, warga diajak bergerak.
Dari skrining, warga diajak mengenali kondisi tubuh.
Dan dari tindak lanjut, warga diajak untuk tidak berhenti pada sekadar mengetahui, tetapi bertindak sebelum penyakit mengambil lebih banyak ruang dalam kehidupan.
Pesan Puskesmas Jatibening sederhana: jangan menunggu tubuh memberi tanda bahaya untuk mulai peduli. Periksa lebih awal, kendalikan risikonya, dan jaga kesehatan sejak sekarang. (Adv)
(DMS)
















